by LP3ES | Feb 27, 2020 | Demokrasi
Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) menerbitkan buku karya cendekiawan muslim Sofjan S Siregar berjudul ‘Ijtihad Demokrasi’.
Bertempat di gedung baru Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (27/2), peluncuran buku dihadiri isteri dan anak almarhum Sofjan S Siregar yang datang langsung dari negeri Kincir Angin, Belanda.
Buku ini terdiri dari tujuh bab dan sejumlah sub-bab. Bahasannya mulai dari oligarki partai politik, reformasi birokrasi, pemberantasan korupsi, ijtihad pembangunan ekonomi, pengembangan demokrasi dan politik luar negeri.
Sejumlah tokoh penting hadir dalam kesempatan itu, dimana sebagian adalah pengisi materi seminar ‘Masa Depan dan Ijtihad Demokrasi’ yang digelar berangkaian dengan peluncuran buku.
Mereka adalah Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia yang juga anggota DPD RI dan pendiri Jimly School of Law and Government, Prof dr Jimly Asshiddiqie; akademisi Universitas Hasanuddin yang juga mantan Komisioner Komnas HAM Said Nisar; Direktur Eksekutif LP3ES, Fajar Nursahid serta Peneliti LP3ES, Zaenal Muttaqien.
“Indonesia butuh buku ini. Inilah buku yang bercerita dengan gamblang tentang apa itu demokrasi yang ternyata ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Buku ini bisa menjadi landasan bagi diskusi-diskusi pegiat demokrasi. Apalagi buku ini mengisi juga wawasan kita bahwasannya tak ada tarikan-tarikan antara Islam dan demokasi. Justeru keduanya dibahas di buku ini dalam suasana kepala dingin,” kata Fajar Nursahid, saat memberikan sambutannya.
Fajar menilai kelebihan buku ini justeru ada pada cara penyampaiannya yang populer dan mudah dipahami. Ibarat makanan, buku ini renyah dan gampang dikunyah.
Bak tontonan, buku ini layak ditonton semua umur. Bagaimana tidak demikian, jika isinya adalah nilai-nilai demokrasi yang ada dalam kehidupan keseharian yang kontemporer ini.
Jimly Asshiddique, yang mengenal dengan baik sosok Sofjan Siregar, mengaku sangat senang dengan terbitnya buku ini oleh LP3ES dan dimunculkan di Perpustakaan Nasional.
Buku yang sangat penting dan bagus untuk dibaca siapa saja. Apalagi buku ini adalah buku yang menggambarkan perspektif orang Indonesia yang lama berada di luar negeri dalam memandang iklim demokrasi di negaranya sendiri.
Sangat menarik menurut Jimly. Dia mengemukakan, Indonesia sebagai negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia, telah dinilai sukses mengelola demokrasi. Sementara banyak negara-negara mayoritas muslim lainnya yang gagal.
“Itu menandakan demokrasi memang sebuah ijtihad. Sebuah perjuangan. Dalam konteks ini, maka saya katakan kalau tidak pada tempatnya jika kita mempertentangkan Islam dan demokrasi. Kita sesungguhnya sudah membuktikan itu, lewat beberapa tahapan kehidupan demokrasi yang telah teruji,” kata Jimly.
Bahkan jika ditarik ke masa Nabi Muhammad SAW, apa yang disebut demokrasi telah dipraktikkan langsung dengan teguh. Baginda Rasulullah tidak memilih penerusnya dari kalangan keluarga.
Jika iya, harusnya Ali Bin Abi Thalib. Tapi Abu Bakar Siddik adalah hasil pemilihan yang demokratis kala itu. Sayyidina Abu Bakar adalah kalifah pertama yang dibaiat atau dipilih ummat saat itu. Selanjutnya Umar Bin Khattab, juga hasil pemilihan langsung.
“Itulah demokrasi yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad. Padahal saat itu belum ada institusi pemilihan seperti saat ini. Jadi bagaimana Islam lewat Nabi Muhammad sudah menjalankan demokrasi dan menjadikannya bermakna positif pada saat itu. Luar biasa,” kata Jimly.
Sjahdian Siregar, putra Sofjan Siregar mengatakan, buku yang dikerjakan sejak 2013-2015 dan disempurnakan sejak 2018-2019 ini adalah visi ayahnya untuk mencapai Indonesia yang lebih adil, makmur dan bermartabat.
“Ayah saya sangat yakin, bahwa ijtihad demokrasi akan memberikan inspirasi dan masukan kepada seluruh komponen bangsa untuk mendorong praktik berdemokrasi yang lebih baik. Integritas, kejujuran, kesederhanaan adalah kuncinya,” kata Sjahdian, saat diatas podium.
Prof Sofjan S Siregar adalah tokoh intelektual yang terkenal di kalangan muslim Belanda. Karya monumentalnya adalah terjemahan Al Quran dalam Bahasa Belanda, De Edele Koran.
Sofjan adalah profesor bidang Islamic Studies dan mengajar mata kuliah Fiqih Siyasah dan Fiqih Kontemporer di Islamic University of Europe (IUE), Rotterdam, Belanda.
Menyelesaikan sarjana muda di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Sofjan meneruskan pendidikan di University of Medinah. Strata 2 dan 3 bidang syariah ditempuhnya di Imam Muhammad Bin Saud Islamic University Riyadh, Saudi Arabia.
Sofjan meninggal dunia di Serbia pada 23 Oktober 2017 ketika menjalankan tugas akademik dalam usia 66 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Belanda. (dianw)
Sumber : waspada.id
by LP3ES | Nov 24, 2019 | Konflik
Yayasan Masagena Centre mengadakan kegiatan Pemberdayaan Pemuda dalam membangun Demokrasi Tanpa Kekerasan yang bertujuan pada pembentukan jaringan pemuda untuk pencegahan dan penyelesaia konflik, di Hotel LYNT Makassar, Kamis (23/11/2017).
Kegiatan ini berfokus pada pengurangan konflik kekerasan dan konsolidasi demokrasi di Indonesia dengan menekankan pada peringatan dini konflik pemuda dengan kekerasan dan perdamaian yang berbasis aplikasi.
Kegiatan ini sendiri di laksanakan di tiga kota di Indonesia, dengan penyelenggaran LP3ES di Jakarta, Masagena Center di Makassar dan Ilalang Papua di Jayapura.
Tidak kurang dari 100 pemuda dari berbagai latar belakang yang berbeda hadir pada kegiatan ini diantaranya, OKP tingkat makassar dan Sulsel, Aktivis dan fungsionaris lembaga kemahasiswaan yang ada di Makassar, Organda, dan Komunitas-komunitas profesi dan kelompok yang ada di Makassar.
Hadir sebagai narasumber Dr. A. M. Akhmar, M. Hum, Peneliti dan juga Akademisi dari UNHAS, berbagi teori dan pengalaman dalam melakukan penanganan konflik dengan isu SARA di Luwu Utara Tahun 2003.
Samsang selaku Project Officer melalui pemaparan hasil baseline data surveinya menyebutkan bahwa, konflik yang paling tinggi berpotensi memicu kekerasan dalam 3 tahun terakhir ini di kota Makassar adalah konflik antar Mahasiswa 21,8%, Konflik antar Gank 16,8%, konflik antar kampung atau wilayah 15,8%, konflik Pilkada 13,9%, konflik kebijakan publik 12,9%, konflik perebutan sumber daya 7,9%, konflik antar suku 7,9% dan konflik dengan isu agama 3,0%.
Di akhir kegiatan peserta membangun komitmen bersama untuk berjejaring dan siap menjadi agent dalam rangka pencegahan dini konflik yang berbasis aplikasi.
Selanjutkan akan dilakukan penguatan kapasitan untuk jaringan, pemetaan dan studi dasar, mengembangkan sistem peringatan dini konflik pemuda (YCEWS) dan mendirikan pusat informasi konflik untuk pemuda. (**)
Sumber. radiomercuriustopfm.com
by LP3ES | Oct 25, 2019 | Pengembangan Masyarakat
Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) dan Universitas Brawijaya (UB) Malang sepakat mengembangkan aktivitas riset dan publikasi ilmiah. Kesepakatan antar kedua pihak ditandatangani oleh Direktur LP3ES Fajar Nursahid dan Direktur Pasca Sarjana UB, Prof Dr Marjono, M.Phil, pada 25 Oktober 2019 di Kampus UB Malang.
Penandatanganan kesepakatan ini merupakan tindaklanjut dari MoU yang ditandatangani Rektor dan Ketua Badan Pelaksana LP3ES di Malang, Februari 2019 lalu. Kerjasama antara keduabelah pihak akan berlaku lima tahun untuk mengembangkan aktivitas riset, publikasi ilmiah dan pengembangan masyarakat
by LP3ES | Sep 30, 2019 | Politik
Bertempat di Ruang Baleg DPR RI, pada hari Senin (30 September 2019), dilangsungkan launching dan diskusi buku berjudul Partai Advokasi: Menghapus Dominasi Uang dalam Politik, karya politisi senior PAN, Totok Daryanto. Acara ini terlaksana atas kerja sama antara penulis buku, Totok Daryanto, dengan LP3ES.
Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional, seperti Zulkifli Hasan (Ketua MPR RI), Bambang Soesatyo (Ketua DPR RI)), Supratman Andi Agtas (Ketua Baleg DPR RI), Didik J. Rachbini (ekonom dan Ketua Dewan Pengurus LP3ES), Mohammad Nasih (politisi PAN), dan lain-lain. Ulasan singkat tentang isi dan substansi buku disampaikan oleh Malik Ruslan (peneliti dan Redaktur Penerbit LP3ES).
Buku tersebut merupakan ekstraksi perenungan (kontemplasi) yang digali dari pengalaman panjang Totok Daryanto (profil singkat terlampir) sebagai wakil rakyat, yang kemudian dikonstruksi menjadi sebuah buku yang menarik dan penting dibaca.
Di dalam bukunya itu, Totok Daryanto menekankan bahwa fenomena politik berbiaya tinggi atau high cost politics seharusnya menjadi perhatian serius segenap elemen bangsa, terutama cendekiawan dan elite politik. Namun dalam kenyataannya, kajian terkait politik biaya tinggi pada umumnya tidak tuntas, kecuali sekadar menghasilkan kesimpulan dan rekomendasi bahwa persoalan tersebut mengancam eksistensi demokrasi. Dan sangat sedikit yang berlanjut pada rumusan program aksi sebagai solusi, kata politisi senior PAN ini.
Setidaknya ada tiga hal yang menarik dicermati dari buku. Pertama, gagasan partai advokasi berisi tuntunan bagaimana seharusnya parpol menjalankan fungsi-fungsi politiknya secara masif dan berkualitas, yang bobot pengaruhnya terhadap dukungan rakyat melebihi pengaruh kekuatan uang. Dengan kata lain, partai advokasi merupakan gerakan pemberdayaan bagi parpol itu sendiri. Kedua, gagasan partai advokasi dalam operasionalisasinya merupakan gerakan politik yang bertumpu pada gerakan moral dan gerakan perubahan. Ketiga, penulis buku ini meyakini bahwa pendekatan “kekuatan uang”dapat dipatahkan dengan “pendekatan politik”.
Dapat dikatakan bahwa buku Partai Advokasi: Menghapus Dominasi Uang dalam Politik ini hadir pada momentum yang sangat tepat, tatkala jagat politik Tanah Air tengah dijejali perilaku politik yang salah dan menyimpang dari norma-norma yang seharusnya. Menurut Totok, politik adalah kemuliaan. Karena itu, ia harus segera dikembalikan ke fungsi utamanya, yakni alat untuk menyusun kekuasaan yang mengabdi bagi kepentingan rakyat. Dalam rangka itulah parpol harus mengubah dirinya menjadi partai advokasi.
Profil singkat Totok Daryanto:
Totok Daryanto adalah politisi senior yang dalam 20 tahun terakhir menjadi wakil rakyat (5 tahun di DPRD Provinsi dan 15 tahun di DPR RI). Ia mengawali karir sebagai editor buku dan jurnalis, dua profesi yang digelutinya selama satu dasawarsa. Tokoh aktivis mahasiswa di Yogyakarta di era gerakan 1977/1978 itu menjabat sebagai Wakil Ketua Umum DPP PAN (2014-2019). Sepanjang karirnya di DPR sejak tahun 2004, dia selalu mendapat tugas dalam Panja dan Pansus yang menyusun dan membahas RUU Pemilu yang menjadi dasar pelaksanaan Pemilu 2009, Pemilu 2014, dan Pemilu 2019.
by LP3ES | Aug 19, 2019 | Ekonomi
Pengembangan sumber daya manasia dengan fokus pada peningkatan kualitas inteligensi perlu diterapkan untuk menghadapi sejumlah masalah pembangunan hingga Indonesia berusia 100 tahun pada 2045. Strategi ini juga bisa menjadi kunci penting dalam upaya membawa Indonesia keluar dari perangkap Negara berpendapatan menengah kebawah.
Indonesia terjebak dalam perangkap negera kategori pendapatan menengah ke bawah (lower-middle income) sejak 1985. Negara dalam kategori itu memiliki kisaran pendapatan perkapita antara 2.000 dollar Amerika Serikat hingga 7.250 Dollar AS.
Untuk keluar dalam kondisi itu, menurut Prof (emertius) Emil Salim,bupaya habis-habisan mesti diarahkan untuk pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM) di periode “Jendela Peluang” bonus demografi.
“(Kebijakan harus) Habis-habisan pada pembangunan kualitas SDM, itu didahulukan di atas segala-galanya,” kata Emil dalam pidato ekonomi politik “Tanggung Jawab Intelektuil Menuju Lepas Landas” yang di sampaikan dalam perayaan ulang tahun ke-48 Lembaga Penelitian, Pendidikan, Penerangan, Ekonomi & Sosial (LP3ES) di Jakarta,
Selain Emil, hadir pula sejumlah tokoh, seperti Ketua Mahkamah Konstitusi 2003-2008 Jimly Asshiddiqie Ketua Perhimpunan Indonesia untuk Pembinaan Pengetahuan dan Sosial (Bineksos) Ismid Hadad: Direktur LP3ES Fajar Nursahid, dan Ketua Dewan Pengurus LP3ES Prof Didik J. Rachbini
Sementara itu Jimly Asshidqie menyampaikan, tetap harus ada sekelompok orang yang berfikir alternatif terhadap realitas yang ada “Karena kelaziman (berfikir) kadang sama dengan kelaziman, Direktur LP3ES Fajar Nursahid juga menegaskan bahwa di usia ke-48 LP3ES Tetap fokus dengan semangat untuk menjadi Think Tank pemikiran alternatif dengan pembangunan bangsa
Sumber : Kompas (INK)