LP3ES: Revitalisasi Sekolah dan Tambahan Penghasilan Guru Non-ASN Berpotensi Dorong Ekonomi Daerah

LP3ES: Revitalisasi Sekolah dan Tambahan Penghasilan Guru Non-ASN Berpotensi Dorong Ekonomi Daerah

Pendidikan tidak hanya berperan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, tetapi juga terbukti menjadi penggerak ekonomi daerah. Kajian terbaru Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) menunjukkan bahwa dua kebijakan pendidikan pemerintah tahun 2025—Program Revitalisasi Sarana dan Prasarana Satuan Pendidikan serta Program Bantuan Tambahan Penghasilan Guru Non-ASN—memberikan dampak sosial ekonomi yang signifikan, mulai dari mendorong pertumbuhan PDRB daerah, menggerakkan ekonomi lokal, hingga meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas guru.

Pendidikan telah berperan penting dalam meningkatkan kualitas kehidupan manusia (Human Capital) di Indonesia. Pendidikan juga dapat berperan sebagai instrumen pembangunan sosial, yang dapat dipandang sebagai investasi ekonomi strategis yang berdampak langsung dan tidak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi.

Sebagai bagian daripada masyarakat sipil yang menempatkan pendidikan sebagai driving force dari kesejahteraan dan kemajuan negara. Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) telah melakukan penelitian Dampak Sosial  Ekonomi pendidikan. Kajian tersebut fokus pada dua kebijakan pendidikan yang dilaksanakan pemerintah pada tahin 2025, yaitu (1) Program Revitalisasi Sarana dan Prasarana Satuan Pendidikan dan (2) Program Bantuan Tambahan Penghasilan Guru Non-ASN. Dua program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan dan peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik. Dalam jangka panjang, dua program tersebut diharapkan dapat memperbaiki akses masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan meningkatkan kesejahteraan para guru.

Koordinator Tim Peneliti LP3ES, Zaenal.Muttaqin menjelaskan kajian dilakukan menggunakan pendekatan mixed methods, yang mengombinasikan survei lapangan di 30 provinsi, wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan pendidikan dan pelaku ekonomi lokal, serta analisis ekonometrika berbasis data sekunder.

Lebih lanjut Zaenal memaparkan hasil dari penelitian program revitalisasi sekolah dan program Tambahan Penghasilan Guru Non-ASN sebagai berikut:

Program Revitalisasi Sekolah

  1. Hasil simulasi yang dilakukan oleh LP3ES menunjukkan bahwa Program Revitalisasi Satuan Pendidikan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Setiap kenaikan 1 persen alokasi dana revitalisasi sekolah diperkirakan berpengaruh terhadap peningkatan PDRB provinsi sebesar 0,527 persen. Hal itu berarti jika pada sebuah provinsi memiliki PDRB sekitar Rp100 triliun, maka program revitalisasi diperkirakan berpengaruh terhadap kenaikan PDRB sebesar Rp527 miliar. Temuan ini menunjukkan bahwa investasi pemerintah pada sarana pendidikan telah berperan sebagai stimulus fiskal berbasis pendidikan.
  2. Dampak revitalisasi terhadap pertumbuhan ekonomi lokal sebagaimana perkiraan diatas kemungkinan terjadi melalui tiga hal:
    1. Pembelian bahan baku material bangunan, dimana berdasarkan survei yang dilakukan oleh LP3ES, 82% responden menyatakan bahwa 75-100 persen bahan bangunan yang digunakan untuk program revitalisasi dibeli diwilayah sekitar sekolah penerima program.
    2. Tricle down effect revitalisasi terhadap tenaga kerja lokal, dimana 62% tenaga kerja dari prgram revitalisasi berasal dari masyarakat sekitar dengan gaji-gaji rata-rata 100.000 sd 150.000 per hari.
    3. Peningkatan pendapatan UMKM, dimana 37% dari UMKM disekitar  sekolah mendapatkan peningkatan pendpaatan kurang lebih sekitar Rp. 100.000 per hari
  3. Selain berdampak pada ekonomi daerah, revitalisasi sekolah juga efektif dalam memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan bagi sekolah penerima bantuan program. Setiap kenaikan 1 persen dana revitalisasi berkorelasi pada peningkatan pemenuhan kebutuhan revitalisasi sekolah sebesar sekitar 0,95 persen. Kondisi tersebut kemungkinan disebabkan karena program reviltasi dilakukan secara swakelola oleh pihak sekolah dengan melibatkan pemangku kepentingan secara langsung
  4. Pemenuhan kebutuhan tersebut, 46,9% merupakan kegiatan rehab ruangan kelas sekaligus pembangunan sarpras baru, 23% rehap ruang kelas tanpa pembangunan sarpras baru, rehap ruang laboratorium 9,7%, rehap ruang kantor 8,4%, rehab ruang praktikum 6,2%, rehap ruang ibadah 3,5% dan lainnya.

Program Tambahan Penghasilan Guru Non-ASN

Dalam hubungannya dengan program tambahan penghasilan guru Non ASN, kajian LP3ES juga menemukan:

  1. Program Bantuan Tambahan Penghasilan Guru Non-ASN berkorelasi positif terhadap kesejahteraan ekonomi guru. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa subsidi dan honor guru berkorelasi positif dan signifikan terhadap pengeluaran rumah tangga. Setiap kenaikan satu satuan nilai subsidi berdampak pada pengeluaran rumah tangga guru rata-rata sebesar 0.3177 satuan. Jika koefisien 0,3177 diinterpretasikan dalam contoh kenaikan subsidi sebesar Rp1 juta rupiah, maka setiap kenaikan subsidi sebesar Rp1 juta akan berdampak pada peningkatan pengeluaran rumah tangga guru rata-rata sekitar Rp317.700, dengan asumsi variabel honor tetap
  2. Pengeluaran tersebut disebabkan karena, 92% guru penerima bantuan tersebut menyatakan bahwa sebagian besar dari mereka mengalami peningkatan pendapatan kurang lebih 35%, sebagian lainnya mengalami peningkatan pendapatan antara 35% sampai dengan 70%.
  3. Peningkatan pengeluaran tersebut, 27% digunakan untuk pemenuhan kebutuhan pokok, 11,8% untuk transportasi, 11,3% untuk pembelian buku / sumber belajar, 10,5% untuk jajan anak, dan lainnya
  4. Selain itu, 57% penerima program tersebut menyatakan terjadi perubahan pola menabung atau investasi kecil yang semula berada pada prioritas ke 6 ketika menerima pertama kali bantuan menjadi prioritas ke 4  (terjadi kenaikan dua tingkat prioritas) ketika menerima bantuan ketiga kali.
  5. Karena terjadinya peningkatan kesejahteraan diatas, 88% guru penerima bantuan menyatakan peningkatan semangat dan produktivitas kerja. 86,2% menyatakan lebih dihargai oleh pemerintah dan 84% menyatakan peningkatan kehadiran di sekolah.

Tantangan Program Revitalisasi

Meskpiun secara umum program revitalisasi berjalan dengan baik, namun ada beberapa tantangan yang mungkin akan menjadi PR bagi pemerintah dalam beberapa tahun ke depan, yaitu:

  1. Keberadaan dana operasi dan pemeliharaan infrstruktur yang telah di bangun di sekolah-sekolah yang menjamin fungsi infrastruktur sesuai dengan keberfungsian usia bangunan yang telah dirancang
  2. Pemerataan Program Revitalisasi, teruma bagi wilayah-wilayah yang memiliki keterbatasan akses akses pendidikan
  3. Pengawasan transparansi dan akuntabilitas pelasanaan program, terutama pada level sekolah

Tantangan Program Tambahan Penghasilan Guru Non ASN

  1. Peningkatan akurasi data penerima bantuan misalnya dengan meminimalisir penerima bantuan yang tekah beralih status dari Guru Non ASN menjadi ASN
  2. Pemerataan penerima bantuan, terutama pada tingkat kabuapten dan sekolah

Zaenal menambahkan dari hasil kajian ini, LP3ES merekomendasikan beberapa hal antara lain:

  • Penguatan Revitalisasi Sekolah yang berbasis pada skema pengelolaan swakelola.  Prioritaskan sekolah dengan kondisi sarpras kritis dan wilayah miskin. Gunakan basis data kebutuhan sekolah untuk alokasi yang lebih tepat. Perkuat monitoring penggunaan dana dan kualitas pengerjaan. Libatkan UMKM lokal secara lebih sistematis melalui regulasi teknis.
  • Optimalisasi Program TAMSIL. Perbaiki mekanisme penyaluran agar lebih tepat waktu dan merata. Tambah pelatihan literasi finansial untuk guru. Sesuaikan nominal bantuan dengan indeks biaya hidup daerah. Integrasikan data kesejahteraan guru ke sistem digital nasional.
  • Integrasi Kebijakan Pendidikan–Ekonomi. Jadikan revitalisasi dan TAMSIL sebagai bagian strategi pembangunan ekonomi daerah. Perluasan program di daerah 3T untuk meningkatkan dampak pemerataan. Kembangkan skema pendanaan berkelanjutan yang tidak bergantung pada mekanisme tahunan.

Menanggapi kajian LP3ES, Muslim dari Kantor Staf Kepresidenan (KSP) menjelaskan bahwa pemerintah saat ini memberikan perhatian besar pada penguatan sektor pendidikan melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan. Program ini mencakup jenjang pendidikan dari PAUD hingga SMA dengan total anggaran mencapai Rp12 triliun. Selain itu, revitalisasi juga menyasar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan alokasi anggaran sebesar Rp2,6 triliun, yang terdiri atas Rp1,4 triliun untuk SMK negeri dan Rp1,1 triliun untuk SMK swasta. Kebijakan ini diharapkan mampu memperbaiki kualitas sarana dan prasarana pendidikan secara lebih merata di seluruh wilayah. (*)

telah di publish di: https://www.klikwarta.com/lp3es-revitalisasi-sekolah-dan-tambahan-penghasilan-guru-non-asn-berpotensi-dorong-ekonomi-daerah

Hasil Riset ini bisa di download pada link berikut: Kajian Dampak Ekonomi Pada Kebijakan Kementrian Pendidikan dan Menengah 2025

 

Kajian LP3ES: Program Pendidikan Dorong Ekonomi Daerah

Kajian LP3ES: Program Pendidikan Dorong Ekonomi Daerah

Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) merilis hasil kajian yang menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah di sektor pendidikan tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas layanan pendidikan, tetapi juga terbukti mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Peneliti utama riset LP3ES, Zaenal Muttaqin, menjelaskan bahwa pendidikan merupakan investasi ekonomi strategis yang memberikan dampak langsung maupun tidak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi. Kajian ini secara khusus menyoroti dua program pemerintah, yakni Program Revitalisasi Sarana dan Prasarana Satuan Pendidikan serta Program Bantuan Tambahan Penghasilan Guru Non-ASN.

“Pendidikan tidak hanya menjadi instrumen pembangunan sosial, tetapi juga berfungsi sebagai stimulus ekonomi, terutama di tingkat daerah,” ujar Zaenal dalam keterangan tertulis, Senin, 29 Desember 2025.

Kajian tersebut menggunakan pendekatan mixed methods, dengan mengombinasikan survei lapangan di 30 provinsi, wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan pendidikan dan pelaku ekonomi lokal, serta analisis ekonometrika berbasis data sekunder.

Dampak Revitalisasi Sekolah

Hasil kajian menunjukkan bahwa Program Revitalisasi Satuan Pendidikan memiliki dampak positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Setiap kenaikan 1 persen alokasi dana revitalisasi sekolah berkorelasi dengan peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi sebesar 0,527 persen. Dengan tingkat signifikansi yang kuat, temuan ini mengindikasikan bahwa belanja pemerintah di sektor pendidikan berperan sebagai stimulus fiskal berbasis pendidikan.

Dampak ekonomi tersebut terjadi melalui beberapa mekanisme. Pertama, perputaran ekonomi lokal dari pembelian material bangunan, di mana 82 persen responden menyatakan bahwa sebagian besar bahan bangunan diperoleh dari wilayah sekitar sekolah penerima program. Kedua, penyerapan tenaga kerja lokal, dengan 62 persen pekerja berasal dari masyarakat sekitar dan menerima upah rata-rata Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per hari. Ketiga, peningkatan pendapatan UMKM, di mana 37 persen pelaku usaha di sekitar sekolah mengalami kenaikan pendapatan sekitar Rp100 ribu per hari.

Selain dampak ekonomi, revitalisasi sekolah juga efektif memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan. Setiap kenaikan 1 persen dana revitalisasi berkorelasi dengan peningkatan pemenuhan kebutuhan sarpras sekolah sebesar 0,95 persen. Kegiatan revitalisasi didominasi oleh rehabilitasi ruang kelas dan pembangunan sarana prasarana baru, disusul rehabilitasi laboratorium, ruang kantor, ruang praktikum, serta ruang ibadah.

Dampak Tambahan Penghasilan Guru Non-ASN

Kajian LP3ES juga menemukan bahwa Program Bantuan Tambahan Penghasilan Guru Non-ASN berdampak signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan guru. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa subsidi dan honor guru berkorelasi positif terhadap peningkatan pengeluaran rumah tangga. Setiap kenaikan subsidi setara Rp1 juta, rata-rata mendorong peningkatan pengeluaran rumah tangga guru sekitar Rp317.700.

Sebagian besar guru penerima bantuan melaporkan peningkatan pendapatan kurang dari 35 persen, sementara sebagian lainnya mengalami kenaikan pendapatan antara 35 hingga 70 persen. Peningkatan pendapatan tersebut terutama digunakan untuk kebutuhan pokok, transportasi, pembelian buku dan sumber belajar, serta kebutuhan anak.

Menariknya, kajian juga mencatat adanya perubahan perilaku finansial guru. Sekitar 57 persen guru menyatakan bahwa aktivitas menabung atau investasi kecil mengalami kenaikan prioritas, dari semula berada di urutan keenam menjadi prioritas keempat setelah menerima bantuan secara berkelanjutan.

Peningkatan kesejahteraan ini turut berdampak pada kinerja guru. Sebanyak 88 persen guru menyatakan semangat dan produktivitas kerja meningkat, 86,2 persen merasa lebih dihargai oleh pemerintah, dan 84 persen melaporkan peningkatan tingkat kehadiran di sekolah.

LP3ES menyimpulkan bahwa kedua program tersebut tidak hanya berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan dan kesejahteraan tenaga pendidik, tetapi juga memberikan efek berganda bagi perekonomian daerah. Oleh karena itu, LP3ES merekomendasikan agar kebijakan investasi pendidikan terus diperkuat sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi berkelanjutan.

telah di publish di: https://ekonomi.tvrinews.com/berita/ti8fvzz-kajian-lp3es-program-pendidikan-dorong-ekonomi-daerah

Sekolah Demokrasi: Mencegah Keruntuhan Institusi dan Membangun Kembali Demokrasi

Sekolah Demokrasi: Mencegah Keruntuhan Institusi dan Membangun Kembali Demokrasi

LP3ES bekerjsama dengan Universitas Paramadina, Universitas Diponegoro, KITLV Leiden, dan INDEF menggelar Sekolah Demokrasi Angkatan VIII yang berlangsung selama 2 hari (28-29 November 2025) bertempat di Universitas Paramadina, Kampus Kuningan, dan kampus Cipayung.

Sekolah Demokrasi tersebut memilih tema ”Mencegah Keruntuhan Institusi dan Membangun Kembali Demokrasi”.

Rektor Universitas Diponegoro, Prof. Suharnomo, dalam sambutanya mengatakan bahwa demokrasi Indonesia berada pada titik yang membutuhkan penguatan mendesak. Menurutnya, kita tidak boleh hanya terpaku pada prosedur demokrasi seperti pemilu atau pergantian kepemimpinan. Demokrasi membutuhkan institusi kuat yang mampu menopang legitimasi politik dan menjaga ruang publik tetap sehat.

Ia mengingatkan bahwa dalam situasi politik seperti sekarang ketika banyak lembaga pengawasan melemah, dan ketika ruang kebebasan sipil mengalami tekanan maka literasi demokrasi menjadi kebutuhan yang tak bisa ditunda. “Dalam situasi seperti ini, institusi demokrasi tidak boleh melemah apalagi runtuh. Dampaknya akan serius, tidak hanya bagi kebijakan, tetapi juga bagi masa depan bangsa,” tuturnya.

Wakil Rektor Bidang Pengelolaan Sumber Daya Universitas Paramadina, Dr. Handi Risza Idris, memulai dengan sebuah pertanyaan yang sering muncul dalam wacana pembangunan: manakah yang harus dibangun terlebih dahulu, demokrasi atau ekonomi? Pertanyaan ini tampak sederhana, namun jawaban dan implikasinya sangat kompleks. Menurut Handi, dalam sejumlah negara, terutama negara kesejahteraan di Eropa, pembangunan ekonomi sering kali menjadi fondasi awal sebelum demokrasi berkembang secara matang.

Namun Indonesia berada dalam dinamika yang berbeda. Reformasi 1998 membuat demokrasi tumbuh bersamaan dengan proses pembangunan ekonomi. Akibatnya, seringkali keduanya dipertentangkan: apakah negara harus lebih fokus pada stabilitas ekonomi atau kebebasan politik?

Pemikiran Bung Hatta Dinilai Tetap Relevan bagi Diplomasi Indonesia

Pemikiran Bung Hatta Dinilai Tetap Relevan bagi Diplomasi Indonesia

Direktur Eksekutif LP3ES Fahmi Wibawa menilai pemikiran Mohammad Hatta (Bung Hatta) tetap relevan dalam arah diplomasi Indonesia masa kini. Ia menyebut gagasan politik luar negeri bebas aktif Bung Hatta masih menjadi pijakan kerja sama global yang adil dan inklusif.
“Politik bebas yang aktif ditujukan memperkuat dan membela perdamaian dunia,” ujar Fahmi saat membuka Sekolah Pemikiran Bung Hatta (SPBH) Angkatan III di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Depok, Sabtu (22/11/2025).

Menurut Fahmi, konsep “social cooperation” yang diperkenalkan Bung Hatta menjadi fondasi penting bagi negara-negara di kawasan Selatan Global (Global South) untuk menyeimbangkan dominasi ekonomi dan politik negara-negara maju di utara. Ia menilai pemikiran tersebut memberi arah bagi posisi Indonesia di tengah dinamika geopolitik dunia.
“Indonesia harus menjaga peran sebagai kekuatan penyeimbang di berbagai forum internasional,” ujarnya.

Pembina Yayasan Bung Hatta, Prof. Meutia Hatta, mengatakan pandangan global ayahnya lahir dari pengalaman masa kecil yang dekat dengan nilai keadilan sosial.
“Bung Hatta tumbuh dengan kesadaran kuat tentang ketidakadilan dan pentingnya perdamaian dunia. Nilai-nilai itu yang membentuk komitmen beliau terhadap keadilan dan kerja sama internasional,” kata Meutia.

Sementara itu, Ketua Dewan Redaksi Karya Lengkap Bung Hatta, Prof. Emil Salim, menegaskan Bung Hatta selalu menempatkan pembangunan manusia sebagai inti politik global. Pengalaman Hatta di Skandinavia, katanya, memperkuat pandangan tentang pentingnya pendidikan, kesejahteraan, dan penolakan terhadap eksploitasi antarnegara.
“Wajib mempelajari cita-cita para pendiri bangsa. Dalam kaitan inilah, saya menghargai usaha LP3ES dan Yayasan Bung Hatta menerbitkan karya-karya beliau,” tutur Emil.

Pasukan Siber, Operasi Pengaruh dan Masa Depan Demokrasi Indonesia

Pasukan Siber, Operasi Pengaruh dan Masa Depan Demokrasi Indonesia

LP3ES kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga dan merawat demokrasi Indonesia dengan meluncurkan sebuah buku penting berjudul Pasukan Siber: Operasi Pengaruh dan Masa Depan Demokrasi Indonesia. Buku ini hadir sebagai hasil riset mendalam yang dilakukan selama beberapa tahun terakhir oleh tim akademisi lintas negara, yang berupaya mengungkap wajah tersembunyi dunia digital Indonesia dalam pasukan siber dan operasi pengaruh yang mereka jalankan.

Acara peluncuran buku tersebut diselenggarakan secara hybrid di Aryaduta Hotel pada Senin (25/8/2025). Turut hadir dalam launching tersebut, Bapak Rahmat Bagja dari Bawaslu, Ibu Betty Idores dari KPU RI, Rektor Universitas Paramadina Prof.Didik J. Rachbini, Pemimpin Redaksi Kompas Bapak Yogi Arif Nugraha, Pemimpin Forum Satu Meja Bapak Budiman Tanuredjo, Ketua Dewan Pers Bapak Komaruddin Hidayat, perwakilan dari Kedutaan Besar Belanda Ibu Shinta serta Bapak Philips J. Vermonte.

Diketahui, beberapa tahun terakhir publik kerap dibuat bertanya-tanya mengenai gelombang percakapan di media sosial yang tiba-tiba muncul, ramai, lalu menggiring opini ke arah tertentu. Banyak yang bertanya, “Siapa yang berada di balik ini semua?” Pertanyaan inilah yang mendorong lahirnya riset panjang yang dituangkan dalam buku ini.

Inspirasi awal pada tahun 2019, ketika gelombang besar penolakan terhadap revisi Undang Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK) justru berbalik arah di ruang digital. Saat di jalanan mahasiswa dan masyarakat sipil menolak pelemahan KPK, di dunia maya justru muncul narasi kuat yang mendukung revisi. Lebih jauh, muncul pula tuduhan bahwa KPK disusupi “Taliban”, sebuah label yang sengaja dipakai untuk mendiskreditkan para pegiat antikorupsi. Fenomena ini tidak terjadi secara alami, melainkan merupakan bagian dari sebuah operasi pengaruh terstruktur, terkoordinasi, dan dibiayai oleh pihak-pihak tertentu.

Acara peluncuran buku dibuka dengan sambutan dari Fahmi Wibawa, Direktur Eksekutif LP3ES. Dalam pidatonya, Fahmi menegaskan bahwa demokrasi di berbagai belahan dunia tengah mengalami pelemahan, dan Indonesia bukan pengecualian. Ia mengingatkan bahwa demokrasi hanya bisa tumbuh jika mendapat pengawalan serius, terutama di tengah derasnya arus informasi digital yang sering kali dimanipulasi. “Melalui rezim saat ini, kita perlu memastikan adanya pengawalan terhadap demokrasi. Buku ini hadir untuk membuka mata kita bahwa demokrasi yang sehat hanya mungkin terjaga bila publik memiliki akses informasi yang akurat dan bebas dari manipulasi” ujarnya.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Abd. Hamid, Ketua Dewan Pengurus LP3ES. Hamid menekankan bahwa buku ini adalah cerminan semangat kritis yang telah menjadi DNA LP3ES sejak didirikan. Menurutnya, para pendiri LP3ES selalu menekankan pentingnya sikap kritis terhadap kekuasaan, dan semangat itu kini menemukan relevansinya kembali. Ia mengaitkan fenomena hoaks dengan literatur klasik kitab kuning, yang menyebutkan bahwa berita bohong dapat menimbulkan masalah besar dalam kehidupan masyarakat. “Hoaks bukan hanya sekadar informasi salah, melainkan ancaman serius bagi tatanan sosial dan demokrasi” tegas Hamid.

Diskusi kemudian berlanjut dengan pemaparan dari penulis utama buku Pasukan Siber Wijayanto, Direktur Center Media dan Demokrasi LP3ES & Wakil Rektor IV Universitas Diponegoro. Ia menyoroti bagaimana media sosial di Indonesia pernah dipenuhi oleh perang tagar pada momentum politik tertentu, salah satunya ketika revisi UU KPK disahkan pada 2019. Dalam waktu singkat, tagar-tagar seperti #KPKdanTaliban, #KPKPatuhAturan, #RevisiUUPKforNKRI, hingga #KPKLebihBaik menjadi viral. Menurut Wijayanto, konten yang beredar saat itu bukanlah produk organik masyarakat biasa, melainkan hasil operasi yang digerakkan secara sistematis. “Pertanyaan yang kami coba jawab lewat buku ini adalah: siapa di balik semua ini? Melalui riset, kami menemukan bahwa ada dua tipe aktor: mereka yang bekerja secara sukarela, dan mereka yang dibayar diam-diam. Yang terakhir inilah yang dikenal dengan istilah pasukan siber” jelasnya.

Penelitian LP3ES dilakukan dengan metode wawancara mendalam kepada 102 anggota pasukan siber, dipadukan dengan analisis big data media sosial. Dari hasil itu, ditemukan bahwa pasukan siber tidak hanya aktif di masa pemilu, melainkan juga dalam mendorong kebijakan, menyerang oposisi, atau bahkan menggiring isu tertentu agar mendominasi ruang publik. Menariknya, latar belakang mereka beragam, namun mayoritas memiliki pengetahuan yang cukup luas, sehingga mampu menyusun narasi yang persuasif.

Dari sisi latar belakang pekerjaan, distribusi informan memperlihatkan variasi yang cukup signifikan. Kelompok terbesar berasal dari kategori Buzzer/Influencer/Agency sebanyak 15 orang, disusul oleh kategori Lain-lain/Belum jelas sebanyak 11 orang, serta pekerja di sektor Pemerintah/ASN/BUMN dan Swasta/Kantoran yang masing-masing berjumlah 8 orang. Selain itu, terdapat pula mereka yang berprofesi sebagai akademisi, aktivis, konsultan, mahasiswa, hingga pedagang dan pelaku usaha kecil. Temuan ini memperlihatkan bahwa pasukan siber tidak berasal dari satu golongan saja, melainkan berakar pada beragam sektor masyarakat.

Dari sisi pendidikan, mayoritas informan memiliki tingkat pendidikan tinggi. Sebanyak 45 orang berlatar belakang pendidikan S1, disusul 26 orang lulusan SMA/SLTA, dan 11 orang lulusan S2. Menariknya, ada juga informan yang berpendidikan hingga S3 berjumlah 4 orang, sementara sebagian lainnya tidak menyebutkan latar pendidikan mereka. Fakta ini memperlihatkan bahwa sebagian besar pasukan siber memiliki kapasitas intelektual yang cukup memadai untuk menyusun narasi persuasif dalam memengaruhi opini publik. “Keberagaman latar belakang pekerjaan dan tingginya tingkat pendidikan para pasukan siber menunjukkan bahwa fenomena ini bukan sekadar aktivitas sporadis, melainkan bagian dari strategi komunikasi politik yang sistematis” ungkap peneliti LP3ES.

Temuan tersebut diperkuat oleh Peneliti KITLV Leiden, Prof. Ward Barenschot, yang menjelaskan bahwa kerja pasukan siber kini menjadi sumber penghidupan baru. Influencer dan buzzer dibayar oleh koordinator politik atau bisnis untuk menjalankan agenda tertentu. Ward mengidentifikasi adanya empat jenis klien yang memanfaatkan jasa pasukan siber di Indonesia: elit politik, partai politik, aktor yang berhubungan dengan pemerintah, serta kalangan pengusaha. Yang unik dibandingkan negara lain, operasi siber di Indonesia tidak hanya datang dari pihak pro-pemerintah, melainkan juga dari kelompok oposisi.

Ward mengingatkan, keberadaan pasukan siber membawa sejumlah dampak negatif. Pertama, kualitas debat publik merosot karena isu-isu diarahkan sesuai agenda mereka. Kedua, kebebasan berekspresi terancam akibat serangan digital terhadap aktivis atau masyarakat. Ketiga, akuntabilitas demokrasi melemah karena pasukan siber menjual narasi kebijakan pemerintah. Keempat, oligarki semakin menguat karena hanya kalangan elit yang memiliki sumber daya untuk mengoperasikan pasukan siber. Untuk itu, ia menyerukan pentingnya regulasi yang mewajibkan transparansi komunikasi digital, serta perlunya peran media dan perusahaan teknologi dalam membangun ekosistem informasi yang lebih sehat.

Ika Karlina Idris dari Monash Universitas, mengungkapkan bahwa temuan penting dalam buku ini adalah bagaimana media arus utama kerap ikut mengamplifikasi isu viral dari media sosial tanpa verifikasi memadai. “Akibatnya, propaganda digital yang digerakkan oleh buzzer bisa menjalar lebih cepat” ujarnya. Ia mencontohkan, isu-isu strategis seperti perubahan iklim seringkali terabaikan dibandingkan isu politik yang diproduksi secara masif oleh pasukan siber.

Senada dengan itu, Ketua Dewan Pers, Prof. Komarudin Hidayat mengaitkan hasil riset ini dengan literatur global, salah satunya The Age of Surveillance Capitalism. Menurutnya, teknologi digital yang beroperasi dalam kerangka kapitalisme justru melahirkan bentuk otoritarianisme baru. “Para diktator modern tidak hanya bersaing, tetapi juga saling berbagi sumber daya demi mempertahankan kekuasaan. Dalam konteks Indonesia, hal ini terlihat dari dominasi partai politik dan oligarki yang mengendalikan media massa,” jelasnya. Ia juga mempertanyakan apakah kedaulatan rakyat masih benar-benar ada, atau justru telah dirampas oleh oligarki.

Sementara itu, Philips J. Vermonte, Presidential Comuunication Ogice menekankan bahwa fenomena rendahnya kepercayaan publik di ruang digital memperparah penyebaran propaganda. Ia menilai, keberadaan ratusan akun yang bisa digantikan dengan multiaccount hanya memperburuk keadaan. “Jika dunia maya dapat dibuat lebih bersih, ia bisa menjadi representasi kerja-kerja sipil. Maka, yang perlu dilakukan adalah mendorong masyarakat kembali pada kerja-kerja analog, memperkuat advokasi kepada perusahaan teknologi agar ikut terlibat, sekaligus mengadvokasi para pengguna” ungkapnya. Philips menambahkan, dari hasil pengamatan PCO, pihaknya tidak menemukan keberadaan buzzer dalam ekosistem mereka.

Diskusi ini ditutup dengan penekanan bahwa buku tersebut bukan sekadar dokumentasi fenomena digital, melainkan juga sebuah peringatan. Wijayanto menegaskan bahwa masyarakat sipil yang kuat dapat menjadi benteng melawan manipulasi digital. Ia mencontohkan resistensi publik yang berhasil menggagalkan upaya memperpanjang masa jabatan presiden. Namun, ia juga mengingatkan bahwa serangan terhadap organisasi masyarakat sipil semakin sering terjadi. “Survei LP3ES menemukan 25 persen organisasi masyarakat sipil pernah mengalami serangan digital, termasuk NGO di Bali yang sebenarnya memiliki kapasitas keamanan digital tinggi” jelasnya.