by LP3ES | Jul 26, 2023 | Opini
Indonesia merupakan salah satu negara dengan masyarakat yang paling beragam di dunia. Terdapat berbagai macam suku bangsa dengan 512 bahasa yang dipertuturkan oleh berbagai manusia yang hidup di dalamnya. Salah satu suku bangsa yang tetap melestarikan bahasa dan budayanya adalah suku bangsa Sunda yang termasuk ke dalam suku bangsa mayoritas kedua setelah Jawa di Indonesia. Masyarakat etnis atau suku bangsa Sunda, merupakan suku bangsa yang hidup di Pulau Jawa bagian barat Indonesia, orang Sunda atau suku Sunda merupakan orang yang secara turun temurun menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu dalam percakapan sehari – hari, lazimnya tinggal di daerah Jawa Barat dan sekitarnya. Terdapat Upacara adat panen, upacara adat sunda saat Ramadhan, dan upacara pernikahan adat sunda merupakan budaya dan tradisi yang tetap lestari di Indonesia hingga kini.
Upacara Adat Panen Masyarakat Sunda
Seren Taun merupakan upacara ungkapan syukur atas suka dan duka yang dialami di bidang pertanian selama setahun lalu dan tahun yang akan datang. Acara ini dilakukan tiap tanggal 22 Bulan Rayagung bulan terakhir kalender Sunda. Sebelum acara ini dilaksanakan terlebih dahulu melaksanakan upacara Ngajayak (menjemput padi) pada tanggal 18 Rayagung. Padi menjadi objek utama dari upacara adat Seren Taun, selain itu acara ini menjadi ajang rasa syukur terhadap dewi Nyi Pohaci Sanghyang Asri yang merupakan dewi kesuburan.
Upacara Nyalin atau Nyawen juga merupakan upacara adat dalam memanen padi. Dimana, sebelum melakukan panen padi upacara adat dilakukan dengan pimpinan Wali Puhun, Wali tersebut memiliki tanggung jawab terhadap Ngerok (menyiangi sawah) hingga Nyimpen Ibu (mengumpulkan atau mengambil padi ke lumbung padi). Upacara adat ini bermaksud untuk mengambil padi sebagai ciptaan tuhan dan tata krama karena padi menjadi salah satu sumber kehidupan manusia.
Upacara Ngaruwat Bumi dari kata rawat atau ngarawat artinya mengumpulkan atau memelihara, dengan maksud mengumpulkan seluruh anggota masyarakat atau mengumpulkan seluruh hasil bumi, baik bahan mentah, setengah jadi, maupun sudah matang. Adapun tujuan dari upacara ini adalah sebagai ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai upaya tolak bala (bencana alam) dan ungkapan rasa syukur kepada leluhur.
Upacara Adat Sunda Saat Ramadhan
Munggahan yang berartikan unggah (naik) dengan maksud naik menjadi pribadi yang lebih baik, Munggahan dilaksanakan menjelang bulan suci Ramadhan yang dilakukan sehari atau dua hari sebelum bulan suci dengan melaksanakan makan bersama secara berderet dan lazimnya menggunakan daun pisang sebagai wadah makanan serta menjadi ajang silaturahmi antar keluarga. Munggahan merupakan adat Sunda yang berakulturasi dengan Islam.
Selain itu, Nganteuran juga merupakan tradisi adat sunda saat Ramadhan. Nganteuran adalah sedekah yang mengirimkan makanan jadi dari keluarga yang lebih muda kepada anggota keluarga yang lebih tua terutama orang tua. Selain itu, Nganteuran juga diberikan kepada masyarakat sekitar yang lebih membutuhkan. Selama melakukan Nganteuran wilayah pedesaan diramaikan dengan tradisi poe peupeuncitan yaitu tradisi memotong ayam dan ngabedahkeun empang yaitu memanen ikan di empang yang nantinya hasil dari panen tersebut dapat disedekahkan kembali kepada masyarakat yang membutuhkan.
Selanjutnya, ngadulag juga merupakan tradisi sunda saat Ramadhan. Dimana, Ngadulag atau Rampak Bedug adalah tradisi yang membunyikan bedug sebagai kegiatan islami yang dimainkan saat menyambut bulan Ramadhan, setelah tarawih, dan saat hari Idul Fitri. Tradisi ini bermakna simbol adat dan budaya sunda selama bulan Ramadhan di samping simbol pengingat shalat dalam Islam.
Upacara Pernikahan Adat Istiadat Sunda
Adat Pernikahan Sunda merupakan tradisi yang sudah lama dilakukan dan masih dilaksanakan oleh orang Sunda dalam melaksanakan upacara pernikahan-nya. Setelah masyarakat Sunda memeluk Islam, Islam telah memberikan warna baru terhadap kehidupan masyarakat Sunda dalam menjalankan budayanya, tak terkecuali dalam pernikahan adat-nya. Ellen sendiri berpendapat bahwa adat dengan agama Islam tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat Islam di Asia Tenggara, tak terkecuali pada masyarakat Sunda. Dalam pernikahan adat Sunda, nilai-nilai Islam telah mempengaruhi adat nikah, seperti upacara sawer, buka pintu, dan lain-lainnya.
Upacara adat pernikahan Sunda terbagi menjadi 3 bagian, yakni sebelum adat nikah (pre-luminal), akad nikah (luminal), dan sesudah akad nikah (post-luminal). Dalam pre-luminal terdapat Neundeun Omongan, Ngalamar, Seserahan, Ngaras dan Siraman, dan Ngeuyeuk Seureuh. Kemudian pada fase luminal ini, terjadinya percampuran 2 insan yang dilaksanakan di masjid. Terakhir, dalam post-luminal terdapat Sawer, Nincak Endog, Upacara Buka Pintu, dan Upacara Huap Lingkung.
Di dalam upacara pernikahan Sunda, sebelum hari akad dikenal dengan tiga upacara yaitu, Pengajian, Ngebakan dan Ngeuyeuk Seureuh. Ngebakan yang berartikan memandikan dengan air doa, acara ini menyimbolkan rasa kasih sayang terhadap anak dari kedua orang tua dan sebagai penyucian diri lahir batin sebelum memasuki pernikahan, dahulu hanya menak Sunda yang dapat melakukannya dan sekarang sudah dapat dilakukan oleh kebanyakan masyarakat Parahyangan.
Lalu, Ngeuyeuk Seureuh yang berasal dari kata paheuyeuk heuyeuk jeung beubeureuh yang berartikan bekerja sama dengan pasangan. Maksud acara ini adalah pemberian nasehat dari orang tua kepada calon mempelai. Dan terdapat pangeuyeuk sebagai pemimpin acara, dahulu acara ini hanya boleh disaksikan oleh sesepuh dan kedua mempelai karena terdapat penjelasan ilmu – ilmu yang mendalam tentang suami dan istri, namun sekarang acara ini boleh diperlihatkan oleh semua orang karena pangeuyeuk sudah memperhalus penjelasannya.
Kemudian, di hari pernikahan dilaksanakan tari Mapag Panganten yang termasuk ke dalam bagian post luminal dalam adat pernikahan sunda. Tari Mapag Panganten merupakan tarian yang dilakukan dalam pernikahan adat Sunda, dilakukan dengan arak-arakan, Mapag artinya menyambut atau menjemput sedangkan Panganten artinya pengantin, tarian ini dilakukan baik di akad nikah maupun acara resepsi. Tata cara melakukan tari Mapag Panganten dimulai dengan penjemputan mempelai pria dan wanita beserta keluarga ke kursi akad maupun menuju pelaminan ketika resepsi dilakukan. Lengser, Ambu, pembawa payung, penari merak, dan penari Pamayang diperlukan dalam tari tersebut. Tari Mapag Panganten pun melambangkan rasa syukur kepada Allah SWT atas ketetapan takdir yang mempertemukan kedua mempelai tersebut sebagai sepasang jodoh. Dalam tari Mapag Panganten seorang Lengser melantunkan syair dari tafsir QS. Ar-Rum ayat 21 yang bermakna tanda-tanda kekuasaan Allah SWT, diciptakan untuk pasangan mempelai sebagai pasangan hidup dengan rasa sayang dan hidup dalam kedamaian.
Berdasarkan deskripsi diatas, dapat disimpulkan bahwa budaya dan tradisi sejatinya merupakan identitas untuk mencitrakan diri dalam perjalanan sejarah kehidupan umat manusia, nilai-nilai luhur yang terkandung didalamnya berkaitan erat dengan perilaku hidup dalam suatu masyarakat, tentang bagaimana nilai budaya dan tradisi itu dapat dilestarikan bergantung pada siapa yang bertanggung jawab merawatnya, seperti budaya dan tradisi suku Sunda yakni upacara adat panen, upacara adat sunda saat Ramadhan, dan upacara pernikahan adat Sunda dapat tetap lestari di Indonesia karena orang Sunda memiliki moralitas yang luhur dalam bertanggung jawab, baik pada Sang Pencipta, sesama manusia, bahkan terhadap alam. Hal ini tercermin dari nilai-nilai yang terkandung pada upacara-upacara suku Sunda tersebut, hingga bisa tetap lestari sampai dengan hari ini.
Opini ini ditulis oleh:
Fathul Jawad, Ghina Hana Zafira, dan Muhamad Fikri Asy’ari, Universitas Al-Azhar Indonesia
Referensi
Benny, C. J., dkk. (2007). Pakaian Tradisional Daerah Jawa Barat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan.
Giadi, R. & Aprilia, A. (2010). Salamina (Selamanya) Sundanese Wedding – Tata Rias, Busana, dan Adat Pernikahan Sunda. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Harsono, T. D. (2018). Ngaruwat Bumi: Tradisi yang Tetap Lestari di Kampung Banceuy. Tautan:https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbjabar/ngaruwat-bumi-tradisi-yang-tetap-lestari-di-kampung-banceuy/
Indrawardana, I. (2012). Kearifan Lokal Adat Masyarakat Sunda dalam Hubungan dengan Lingkungan Alam. Komunitas 4 (1) : 1 – 8.
Koentjraningrat. (2004). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan.
Kuncoro, Mudrajad. (2013). Desentralisasi Globalisasi dan Demokrasi Lokal. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia.
Maulana, Mu’min. (2013). Upacara Daur Hidup dalam Pernikahan Adat Sunda. Refleksi, 13(05), 623-640.
Mustopa, I. R. (2021). Tradisi Munggahan di Tanah Sunda yang Unik. Tautan: https://osc.medcom.id/community/tradisi-munggahan-di-tanah-sunda-yang-unik-1743
Pemerintah Kabupaten Kuningan. Upacara Seren Taun. Tautan: https://www.kuningankab.go.id/wisata-dan-budaya/upacara-seren-taun
Suminar, N. R. (2009). Mengagungkan Ramadhan. Koran Kompas.
Suryadinata, Leo., dkk. (2003). Pendudukan Indonesia: Etnis dan Agama dalam Era Perubahan Politik. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia.
Triani, S. (2014). Pembelajaran Rampak Bedug pada Ekstrakurikuler di SDN Cilegon 2. Skripsi.
Wulandari, P. (2019). Bentuk Penyajian Tari Mapag Panganten Dalam Upacara Perkawinan Adat Sunda Kreasi Citra Nusantara Studio di Kabupaten Bogor. Skripsi.
by LP3ES | Jul 13, 2023 | Demokrasi
Jakarta – Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina melalui Paramadina Communication Institute (PCI) membuat forum seminar dan peluncuran buku dengan tema “Kehampaan Hak Rakyat di Hadapan Oligarki Menjelang Pemilu 2024”. Dalam peluncuran buku ini, Universitas Paramadina menggandeng LP3ES.
“Saya berterima kasih karena ini merupakan kegiatan yang sangat peduli tentang pengembangan peradaban ilmiah dan macam-macam. Kami dari LP3ES menyambut baik atas kerjasamanya,” kata Ketua Dewan Pengurus LP3ES, Abdul Hamid secara virtual, Kamis, 13 Juli 2023. Abdul Hamid mengatakan hak rakyat di Indonesia memang betul hampa, karena Indonesia sudah mengalami perubahan dalam sistem demokrasi.
“Kalau saya lihat Indonesia ini negara sebagai pedagang dengan menghimpun oligarki kemudian rakyat seluruh memberi seperti toko klontong, sehingga rakyat tidak mempunyai hak,” katanya.
Abdul Hamid menilai kehampaan yang dirasakan pada rakyat itu harus dievaluasi oleh negara, terlebih menjelang Pemilu 2024 mendatang. “Harus dievaluasi selama 5 tahun, tidak cukup saat pemilu. Tapi evaluasi kinerja, yang parameternya adalah pancasila,” ucapnya.
Menurutnya, penyelenggaraan negara yang saat ini akan digelar, yaitu Pemilu harus dievaluasi oleh rakyat. Evaluasi itu juga harus sesuai dengan standar dari negara itu sendiri.
“Harus sesuai dengan Pancasila, ya itu parameternya ya 5 sila itu. Apakah semakin berkeadilan, itu penting karena selama ini tidak ada dalam proses bernegara kita,” pungkasnya. Abdul Hamid mengingatkan jika suatu negara rusak, bukan menjadi tanggungjawab partai politik lagi, melainkan masyarakat.
“Bukan menjadi tanggungjawab partai jika negara rusak. Mohon maaf, tidak ada tanggungjawab partai tidak ada, jika mereka diamanati kemudian rusak, ya rusak saja,” katanya.
Artikel ini sudah tayang di VIVA.co.id pada hari Kamis, 13 Juli 2023 – 19:57 WIB
Judul Artikel : Universitas Paramadina Luncurkan Buku Oligarki, LP3ES: Pemilu Harus Dievaluasi Rakyat
Link Artikel : https://www.viva.co.id/berita/nasional/1617866-universitas-paramadina-luncurkan-buku-oligarki-lp3es-pemilu-harus-dievaluasi-rakyat?page=2
Oleh : Bayu Nugraha,Rahmat Fatahillah Ilham
by LP3ES | Jun 26, 2023 | Demokrasi
Maisie Sagita, analyst Continuum Big Data memaparkan hasil riset Continuum periode 01-31 Mei 2023 yang menemukan fakta-fakta menarik seputar kecenderungan netizen di media sosial twitter tentang popularitas Partai Politik saat ini.
Data yang diambil dari 485,743 perbincangan di media sosial dan terdiri dari 139,942 akun media sosial twitter.Data yang didapat oleh Continuum telah disaring terlebih dulu dari buzzer dan BOT, sehingga dapat diperoleh pendapat dari akun akun masyarakat pada umumnya.
Dari hasil pengumpulan data, dari 18 partai politik yang lolos sebagai peserta pemilu 2024, saat ini terdapat 5 partai politik yang paling popular di media massa yakni : Partai Nasdem, PDIP, PKS, PKB dan Gerindra.
“Partai Nasdem menjadi partai paling popular dengan tingkat penerimaan paling tinggi dan proporsi perbincangan positif yakni 77% atau 140 ribu lebih perbincangan oleh 26.056 akun medsos,” terang Maisie Sagita
Popularitas tersebut dikarenakan Partai Nasdem dan PKS (39 ribu perbincangan) menjadi partai populer karena langkahnya yang berani menyalonkan Anies Baswedan dalam Pilpres 2024 dan dinilai menyelamatkan demokrasi.
Selain itu menurut Maisie, Partai Nasdem juga dianggap menyebabkan kader partai lain pindah ke Nasdem.
“Di sisi lain, publik juga menyoroti tindakan korupsi yang dilakukan kader Partai Nasdem dan meminta untuk menyelidiki aliran dan korupsi ke partai. Publik juga curiga dengan biaya pembangunan Nasdem Tower,” ungkapnya.
Selain itu partai PKB dengan 38 ribu perbincangan juga populer karena ada narasi perbedaan dukungan di akar rumput antara mendukung Anies Baswedan dan Prabowo.
Sementara PDIP (110 ribu perbincangan positif oleh 30,785 akun medsos) meraih 71,5% tingkat popularitas positif karena Bacapres Ganjar Pranowo. Gerindra dengan 35,400 perbincangan populer karena didorong percakapan bacapres Prabowo.
Sementara 58,5% percakapan pendukung PDIP berisi dukungan kepada Ganjar Pranowo. Di sisi lain publik juga menyoroti tindakan korupsi yang dilakukan kader PDIP. Padahal dulu PDIP memperjuangkan reformasi tetapi justru sekarang mendukung sistem pemilu proporsional tertutup.
PKS, partai Islam memperoleh 39,542 perbincangan oleh 14,137 akun medsos dan memperoleh positive rate 80,9%. Elektabilitas PKS menjadi semakin naik karena mengusung Anies Baswedan sebagai Capres 2024 dan menyelamatkan demokrasi.
Namun, PKS juga dikritik karena tindakan kekerasan oleh kadernya, dan menyoroti kader PKS lain yang menolak UU tindak pidana kekerasan seksual. Isu majunya Kaesang sebagai calon Walikota Depok juga memunculkan keinginan publik untuk menyingkirkan PKS dari Depok.
Partai Gerindra, mendapat 35,350 perbincangan oleh 16,132 akun medsos. 58,1 percakapan berisi dukungan publik untuk kepada Prabowo.
“Publik juga mengapresiasi tim Gerindra yang mampu membangun citra Prabowo dengan sangat baik. Tetapi di sisi lain tindakan Prabowo yang menggandeng keluarga Jokowi menyebabkan publik menilai Gerindra gagal dalam mengkader bibit bibit dalam partai,” jelas Maisie.
Direktur Pusat Studi Media dan Demokrasi LP3ES, Wijayanto dalam paparannya menyebut dari perspektif normatif tentang Pemilu maka itu artinya berbicara ihwal demokrasi. Pemilu adalah satu mekanisme demokrasi untuk memilih pemimpin.
“Oleh karenanya kemudian pemilu digunakan sebagai cara bagi warga negara untuk menunjukkan kedaulatannya dan mengambil keputusan politik memilih dan memandatkan kepada wakil rakyat atau pada pemimpin,” terangnya.
Menurut Wijayanto, sayangnya, saat ini pemilu di Indonesia ditempatkan dalam konteks kemunduran demokrasi sebagaimana telah muncul banyak catatan tentang pemilu yang berlangsung dalam suasana yang hampir ditunda, dan hampir jadi 3 periode petahana presiden.
“Pemilu diiringi dengan cawe-cawe presiden yang aktif memberikan dukungannya kepada dua capres. Hal itu menimbulkan pertanyaan dan protes publik. Padahal salah satu ciri dari pemilu yang demokratis adalah, kita tidak bisa tahu di awal siapa pemenangnya. Menjadi menurun kualitas demokrasi bila siapa pemenang telah diketahui lebih dulu,” jelasnya.
Selanjutnya Dr Wijayanto juga memberikan opini terkait riset popularitas partai, tetapi ada satu hal penting, bahwa pemilu seharusnya membicarakan masalah-masalah yang dialami warga negara. Lalu dibicarakan juga apa solusinya.
“Dari perbicangan riset Continuum yang ada nampaknya kita terjebak pada perbincangan tentang “pacuan kuda”. Kemudian tentang koalisi antar partai, jadi isunya elitis sekali,” katanya.
Menurut Wijayanto, saat ini kita tidak mendengar itu semua dari partai-partai yang bersaing. Yang muncul hanya PKS Nasdem PDIP terkenal karena mendukung bacapres-bacapres Anies atau Ganjar Pranowo. Dengan demikian perbincangannya berkisar pada elit yang ada. Atau populernya karena ada kasus korupsi pada menteri-menteri yang berasal dari partai,” ujarnya.
“Seharusnya mendekati pemilu 2204 yang sisa 7 bulan lagi, ada solusi atau konsep apa yang dapat didengar publik untuk berbagai macam masalah bangsa mulai dari HAM, kemiskinan, lapangan pekerjaan, isu lingkungan dan isu isu pro publik lainnya,” tegas Wijayanto.
Sumber: Barisan.co
by LP3ES | Jun 17, 2023 | Ekonomi, Kebijakan Publik, Politik
15 Juni 2023, Presiden Joko Widodo telah menegaskan pada kesempatan acara peluncuran Indonesia Emas 2045 dan RPJPN 2025-2045 bahwa Indonesia memerlukan stabilitas, keberlanjutan, serta kepemimpinan yang kuat dan berani dalam mencapai Indonesia Emas 2045. Kepala negara memberikan highlights tiga pilar sebagai prasyarat (prerequisite) dalam perjalanan menuju Indonesia Emas.

Pertama, stabilitas bangsa merupakan kunci penting dalam meraih kemakmuran. Tanpa stabilitas, tak satu pun negara yang berkonflik mampu mencapai tujuan mulia tersebut. Kedua adalah keberlanjutan dan kesinambungan kepemimpinan. Untuk menjamin kesinambungan ini, perekatnya adalah RPJPN 2025-2045. Siapapun pemimpin yang mendapat amanah rakyat, hasil dari transisi kepemimpinan nasional tahun 2024 nanti, tidak boleh lepas dari koridor RPJPN untuk menjamin keberlanjutan pembangunan. Kepemimpinan nasional hasil Pemilu, juga harus memperharikan RPJPN hasil aspirasi rakyat ini. Ketiga Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki fisik, keterampilan, karakter produktif, dan semangat juang yang unggul.

Direktur Eksekutif LP3ES Fahmi Wibawa Dalam kesempatan ini, kami ingin melaporkan bahwa setelah sekitar 2 bulan pasca MoU, kami bersama dengan rekan-rekan di Bappenas, terutama di unit PAKK, telah menyusun langkah-langkah operasional untuk menulis dan menerbitkan buku telaah RPJPN ini. Secara garis besar, prosesnya terdiri dari dua fase, yaitu fase penulisan dan fase penerbitan. Untuk fase penulisan, kami akan membagi para penulis dan perencana Bappenas ke dalam 5 kelompok kerja tematik, mengikuti struktur dan sistematika RPJPN. Kegiatan dua hari ini merupakan konsolidasi (kick off) antara seluruh tim penulis dan reviewer dari LP3ES maupun perencana Bappenas. Sebelumnya, masing-masing pihak (Bappenas dan LP3ES) telah melakukan persiapan yang diperlukan.
Selanjutnya, proses penyusunan naskah akan berlangsung selama 4 bulan, dari Juni ini sampai dengan September. Dalam proses penulisan, akan dilakukan berbagai bentuk kegiatan pendalaman seperti FGD, Webinar, Workshop dan mini riset. Setelah naskah tulisan selesai, proses selanjutnya adalah keredaksian dan penerbitan. Proses membutuhkan waktu selama 3 Bulan. Sehingga In sya Allah 30 Desember 2023, buku sudah terbit secara resmi.
by LP3ES | Jun 6, 2023 | Opini
Pada 22-23 Mei 2023, Bappenas menyelenggarakan Musyawarah Rencana Pembangunan Nasional atau Musrenbangnas 2023, penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional atau RPJPN 2025-2045.
Kegiatan mahapenting ini luput dari perhatian publik di tengah ingar-bingar road show para bakal calon presiden (capres) dalam mencuri perhatian publik. Padahal, menurut UU Pemilu, para pasangan capres harus mengadopsi RPJPN 2025-2045 ini dalam visi dan misi mereka. Kegiatan ini dimaksudkan supaya jalannya pembangunan dapat terarah, terpadu, dan memiliki sasaran utama dan sasaran antara yang jelas dan konkret dalam menjawab kebutuhan bangsa ke depan.
Tantangan ke depan
Cita-cita dan tujuan Indonesia merdeka di usia 100 tahun pada 2045 dipastikan akan menghadapi tantangan yang kian berat dan kompleks. Di pentas global (aspek eksternal), Indonesia harus tampil sebagai bangsa yang berdaya saing, pelaku utama, dan bukan sekadar penggembira. Pada tataran internal, Indonesia harus menjadi bangsa yang mandiri dan maju. Sejalan dengan itu, bangsa dengan kualifikasi seperti ini harus mencerminkan keadilan dan kemakmuran dalam setiap aspek kehidupan agar kue pembangunan terbagi rata.
Lebih rinci, segenap rakyat memiliki kesempatan sama untuk mengakses pelayanan sosial, pendidikan dan kesehatan, lapangan pekerjaan, mengemukakan pendapat dan berekspresi di muka umum, melaksanakan hak politik, mendapatkan perlindungan dan kesamaan di depan hukum, serta memperoleh kehidupan yang lebih baik, tercermin dari peningkatan taraf kesejahteraan sosial ekonomi.
Para cendekiawan memahami pembangunan tak sebatas pertumbuhan ekonomi dan ukuran modernisasi lain seperti urbanisasi maupun industrialisasi. Lebih dari itu, pembangunan pada hakikatnya mencakup hal-hal yang lebih luas, seperti pemerataan, kemajuan kemanusiaan, lingkungan hidup, demokrasi, pranata sosial, nilai-nilai budaya, dan peradaban. Bila pembangunan sekadar untuk menjawab tantangan bangsa melalui proses modernisasi, hasilnya cenderung hanya akan melejitkan para elite, melanggengkan hegemoni oligarki, sementara kelas bawah tetap tertinggal akibat kian melebarnya ketimpangan.
Ekonom pembangunan peraih nobel, Amartya Sen, berpandangan, kemakmuran sebuah bangsa dapat tercapai bila berbasis pada kekuatan masyarakat yang berdaya. Artinya, kemakmuran bangsa yang diidamkan melalui proses pembangunan dapat tercapai apabila bangsa itu memiliki SDM yang berkualitas, berkepribadian, berakhlak mulia, dan berpendidikan tinggi. Kata kunci rancangan pembangunan dalam upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045 adalah transformasi. Langkah reformasi saja tak cukup, melainkan perlu diperkuat dengan transformasi menyeluruh di berbagai bidang pembangunan. Transformasi ini penting untuk mewujudkan pembangunan yang kompetitif, didorong oleh produktivitas tinggi yang inklusif dan berkelanjutan.
Fokus utama transformasi meliputi aspek sosial, ekonomi, dan tata kelola. Transformasi dapat berjalan baik jika ditopang kuatnya landasan stabilitas nasional yang meliputi supremasi hukum, demokrasi substansial, keamanan nasional, dan stabilitas ekonomi, serta diplomasi tangguh untuk memperkuat peran di kancah internasional.
Supremasi hukum menjamin kepastian hukum dan keadilan. Sementara demokrasi substansial menghasilkan pemerintahan efektif dan responsif. Keamanan nasional yang kuat melindungi negara dan menciptakan lingkungan aman, sedangkan stabilitas ekonomi mendukung kesejahteraan masyarakat.
Ketika keempat aspek ini stabil, negara akan memiliki fondasi kuat untuk melaksanakan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan, menarik investasi, menciptakan pekerjaan yang layak, dan mengalokasikan sumber daya secara efektif.
Terobosan
Terobosan menarik dari Musrenbangnas 2023 kali ini adalah penghampiran kepada seluruh elemen anak bangsa. Berbagai masalah mendasar yang tak kunjung selesai selama proses pembangunan, seperti kemiskinan dan kesenjangan, tak lagi didekati dengan program dan proyek yang bersifat ”asupan” dengan cara si miskin mendatangi kantong-kantong proyek mengatasi kemiskinan. Akan tetapi, masyarakat yang belum hidup layak itu didekati, didata, ditemukenali kebutuhan pelayanan dasar yang belum dipenuhi, dan secara bertahap dipenuhi kebutuhannya.
Demikian halnya masalah kesenjangan yang terus menghantui pembangunan di Indonesia dari masa-ke masa, baik sosial maupun spasial, tak lagi didekati hanya dengan guyuran program ke wilayah terbelakang. Daerah-daerah yang berkekurangan ini harus ”didatangi”, diagnosis masalah utama yang menggelayuti, dan pada akhirnya didorong dengan menggunakan potensi yang dimilikinya, termasuk dicantolkan ke wilayah yang lebih maju.
Ikhtiar ini bisa diamati di wilayah Sulawesi, misalnya. Aspal di Buton tak lagi boleh diangkut keluar sebelum seluruh Sulawesi teraspali dengan baik. Smelter dan eksplorasi aneka pertambangan, tak hanya menumpang lewat komoditas ekspor, tetapi juga harus menyumbang pajak, retribusi, dan lapangan pekerjaan ke daerah host-nya. Selain itu, pertanian bahan pangan juga digalakkan untuk mengantisipasi suplai kebutuhan pangan di Ibu Kota Nusantara dan wilayah yang lebih maju lainnya. Pendekatan ini dirasakan lebih memanusiakan manusia Indonesia. Pendekatan sebelumnya yang memiliki slogan people centered, atau people driven, yang aslinya dikampanyekan oleh lembaga-lembaga internasional, dikemas ulang.
Manusia Indonesia tak hanya sebagai subyek pembangunan, tetapi lebih dari itu, mereka diakui eksistensinya sebagai insan yang memiliki jiwa, memiliki rasa, dan memiliki karsa. Pembangunan dirancang tak hanya untuk memenuhi segala kebutuhannya demi kesejahteraan semata, tetapi juga menggunakan cara-cara bermartabat, yang mengakui dan menghargai sisi-sisi kemanusiaannya.
Fahmi Wibawa, Direktur Eksekutif LP3ES; Pengajar FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Diterbitkan : https://www.kompas.id/baca/opini/2023/06/05/merancang-pembangunan-yang-bermartabat