LP3ES: Revitalisasi Sekolah dan Tambahan Penghasilan Guru Non-ASN Berpotensi Dorong Ekonomi Daerah

LP3ES: Revitalisasi Sekolah dan Tambahan Penghasilan Guru Non-ASN Berpotensi Dorong Ekonomi Daerah

Pendidikan tidak hanya berperan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, tetapi juga terbukti menjadi penggerak ekonomi daerah. Kajian terbaru Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) menunjukkan bahwa dua kebijakan pendidikan pemerintah tahun 2025—Program Revitalisasi Sarana dan Prasarana Satuan Pendidikan serta Program Bantuan Tambahan Penghasilan Guru Non-ASN—memberikan dampak sosial ekonomi yang signifikan, mulai dari mendorong pertumbuhan PDRB daerah, menggerakkan ekonomi lokal, hingga meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas guru.

Pendidikan telah berperan penting dalam meningkatkan kualitas kehidupan manusia (Human Capital) di Indonesia. Pendidikan juga dapat berperan sebagai instrumen pembangunan sosial, yang dapat dipandang sebagai investasi ekonomi strategis yang berdampak langsung dan tidak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi.

Sebagai bagian daripada masyarakat sipil yang menempatkan pendidikan sebagai driving force dari kesejahteraan dan kemajuan negara. Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) telah melakukan penelitian Dampak Sosial  Ekonomi pendidikan. Kajian tersebut fokus pada dua kebijakan pendidikan yang dilaksanakan pemerintah pada tahin 2025, yaitu (1) Program Revitalisasi Sarana dan Prasarana Satuan Pendidikan dan (2) Program Bantuan Tambahan Penghasilan Guru Non-ASN. Dua program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan dan peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik. Dalam jangka panjang, dua program tersebut diharapkan dapat memperbaiki akses masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan meningkatkan kesejahteraan para guru.

Koordinator Tim Peneliti LP3ES, Zaenal.Muttaqin menjelaskan kajian dilakukan menggunakan pendekatan mixed methods, yang mengombinasikan survei lapangan di 30 provinsi, wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan pendidikan dan pelaku ekonomi lokal, serta analisis ekonometrika berbasis data sekunder.

Lebih lanjut Zaenal memaparkan hasil dari penelitian program revitalisasi sekolah dan program Tambahan Penghasilan Guru Non-ASN sebagai berikut:

Program Revitalisasi Sekolah

  1. Hasil simulasi yang dilakukan oleh LP3ES menunjukkan bahwa Program Revitalisasi Satuan Pendidikan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Setiap kenaikan 1 persen alokasi dana revitalisasi sekolah diperkirakan berpengaruh terhadap peningkatan PDRB provinsi sebesar 0,527 persen. Hal itu berarti jika pada sebuah provinsi memiliki PDRB sekitar Rp100 triliun, maka program revitalisasi diperkirakan berpengaruh terhadap kenaikan PDRB sebesar Rp527 miliar. Temuan ini menunjukkan bahwa investasi pemerintah pada sarana pendidikan telah berperan sebagai stimulus fiskal berbasis pendidikan.
  2. Dampak revitalisasi terhadap pertumbuhan ekonomi lokal sebagaimana perkiraan diatas kemungkinan terjadi melalui tiga hal:
    1. Pembelian bahan baku material bangunan, dimana berdasarkan survei yang dilakukan oleh LP3ES, 82% responden menyatakan bahwa 75-100 persen bahan bangunan yang digunakan untuk program revitalisasi dibeli diwilayah sekitar sekolah penerima program.
    2. Tricle down effect revitalisasi terhadap tenaga kerja lokal, dimana 62% tenaga kerja dari prgram revitalisasi berasal dari masyarakat sekitar dengan gaji-gaji rata-rata 100.000 sd 150.000 per hari.
    3. Peningkatan pendapatan UMKM, dimana 37% dari UMKM disekitar  sekolah mendapatkan peningkatan pendpaatan kurang lebih sekitar Rp. 100.000 per hari
  3. Selain berdampak pada ekonomi daerah, revitalisasi sekolah juga efektif dalam memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan bagi sekolah penerima bantuan program. Setiap kenaikan 1 persen dana revitalisasi berkorelasi pada peningkatan pemenuhan kebutuhan revitalisasi sekolah sebesar sekitar 0,95 persen. Kondisi tersebut kemungkinan disebabkan karena program reviltasi dilakukan secara swakelola oleh pihak sekolah dengan melibatkan pemangku kepentingan secara langsung
  4. Pemenuhan kebutuhan tersebut, 46,9% merupakan kegiatan rehab ruangan kelas sekaligus pembangunan sarpras baru, 23% rehap ruang kelas tanpa pembangunan sarpras baru, rehap ruang laboratorium 9,7%, rehap ruang kantor 8,4%, rehab ruang praktikum 6,2%, rehap ruang ibadah 3,5% dan lainnya.

Program Tambahan Penghasilan Guru Non-ASN

Dalam hubungannya dengan program tambahan penghasilan guru Non ASN, kajian LP3ES juga menemukan:

  1. Program Bantuan Tambahan Penghasilan Guru Non-ASN berkorelasi positif terhadap kesejahteraan ekonomi guru. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa subsidi dan honor guru berkorelasi positif dan signifikan terhadap pengeluaran rumah tangga. Setiap kenaikan satu satuan nilai subsidi berdampak pada pengeluaran rumah tangga guru rata-rata sebesar 0.3177 satuan. Jika koefisien 0,3177 diinterpretasikan dalam contoh kenaikan subsidi sebesar Rp1 juta rupiah, maka setiap kenaikan subsidi sebesar Rp1 juta akan berdampak pada peningkatan pengeluaran rumah tangga guru rata-rata sekitar Rp317.700, dengan asumsi variabel honor tetap
  2. Pengeluaran tersebut disebabkan karena, 92% guru penerima bantuan tersebut menyatakan bahwa sebagian besar dari mereka mengalami peningkatan pendapatan kurang lebih 35%, sebagian lainnya mengalami peningkatan pendapatan antara 35% sampai dengan 70%.
  3. Peningkatan pengeluaran tersebut, 27% digunakan untuk pemenuhan kebutuhan pokok, 11,8% untuk transportasi, 11,3% untuk pembelian buku / sumber belajar, 10,5% untuk jajan anak, dan lainnya
  4. Selain itu, 57% penerima program tersebut menyatakan terjadi perubahan pola menabung atau investasi kecil yang semula berada pada prioritas ke 6 ketika menerima pertama kali bantuan menjadi prioritas ke 4  (terjadi kenaikan dua tingkat prioritas) ketika menerima bantuan ketiga kali.
  5. Karena terjadinya peningkatan kesejahteraan diatas, 88% guru penerima bantuan menyatakan peningkatan semangat dan produktivitas kerja. 86,2% menyatakan lebih dihargai oleh pemerintah dan 84% menyatakan peningkatan kehadiran di sekolah.

Tantangan Program Revitalisasi

Meskpiun secara umum program revitalisasi berjalan dengan baik, namun ada beberapa tantangan yang mungkin akan menjadi PR bagi pemerintah dalam beberapa tahun ke depan, yaitu:

  1. Keberadaan dana operasi dan pemeliharaan infrstruktur yang telah di bangun di sekolah-sekolah yang menjamin fungsi infrastruktur sesuai dengan keberfungsian usia bangunan yang telah dirancang
  2. Pemerataan Program Revitalisasi, teruma bagi wilayah-wilayah yang memiliki keterbatasan akses akses pendidikan
  3. Pengawasan transparansi dan akuntabilitas pelasanaan program, terutama pada level sekolah

Tantangan Program Tambahan Penghasilan Guru Non ASN

  1. Peningkatan akurasi data penerima bantuan misalnya dengan meminimalisir penerima bantuan yang tekah beralih status dari Guru Non ASN menjadi ASN
  2. Pemerataan penerima bantuan, terutama pada tingkat kabuapten dan sekolah

Zaenal menambahkan dari hasil kajian ini, LP3ES merekomendasikan beberapa hal antara lain:

  • Penguatan Revitalisasi Sekolah yang berbasis pada skema pengelolaan swakelola.  Prioritaskan sekolah dengan kondisi sarpras kritis dan wilayah miskin. Gunakan basis data kebutuhan sekolah untuk alokasi yang lebih tepat. Perkuat monitoring penggunaan dana dan kualitas pengerjaan. Libatkan UMKM lokal secara lebih sistematis melalui regulasi teknis.
  • Optimalisasi Program TAMSIL. Perbaiki mekanisme penyaluran agar lebih tepat waktu dan merata. Tambah pelatihan literasi finansial untuk guru. Sesuaikan nominal bantuan dengan indeks biaya hidup daerah. Integrasikan data kesejahteraan guru ke sistem digital nasional.
  • Integrasi Kebijakan Pendidikan–Ekonomi. Jadikan revitalisasi dan TAMSIL sebagai bagian strategi pembangunan ekonomi daerah. Perluasan program di daerah 3T untuk meningkatkan dampak pemerataan. Kembangkan skema pendanaan berkelanjutan yang tidak bergantung pada mekanisme tahunan.

Menanggapi kajian LP3ES, Muslim dari Kantor Staf Kepresidenan (KSP) menjelaskan bahwa pemerintah saat ini memberikan perhatian besar pada penguatan sektor pendidikan melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan. Program ini mencakup jenjang pendidikan dari PAUD hingga SMA dengan total anggaran mencapai Rp12 triliun. Selain itu, revitalisasi juga menyasar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan alokasi anggaran sebesar Rp2,6 triliun, yang terdiri atas Rp1,4 triliun untuk SMK negeri dan Rp1,1 triliun untuk SMK swasta. Kebijakan ini diharapkan mampu memperbaiki kualitas sarana dan prasarana pendidikan secara lebih merata di seluruh wilayah. (*)

telah di publish di: https://www.klikwarta.com/lp3es-revitalisasi-sekolah-dan-tambahan-penghasilan-guru-non-asn-berpotensi-dorong-ekonomi-daerah

Kajian LP3ES: Program Pendidikan Dorong Ekonomi Daerah

Kajian LP3ES: Program Pendidikan Dorong Ekonomi Daerah

Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) merilis hasil kajian yang menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah di sektor pendidikan tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas layanan pendidikan, tetapi juga terbukti mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Peneliti utama riset LP3ES, Zaenal Muttaqin, menjelaskan bahwa pendidikan merupakan investasi ekonomi strategis yang memberikan dampak langsung maupun tidak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi. Kajian ini secara khusus menyoroti dua program pemerintah, yakni Program Revitalisasi Sarana dan Prasarana Satuan Pendidikan serta Program Bantuan Tambahan Penghasilan Guru Non-ASN.

“Pendidikan tidak hanya menjadi instrumen pembangunan sosial, tetapi juga berfungsi sebagai stimulus ekonomi, terutama di tingkat daerah,” ujar Zaenal dalam keterangan tertulis, Senin, 29 Desember 2025.

Kajian tersebut menggunakan pendekatan mixed methods, dengan mengombinasikan survei lapangan di 30 provinsi, wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan pendidikan dan pelaku ekonomi lokal, serta analisis ekonometrika berbasis data sekunder.

Dampak Revitalisasi Sekolah

Hasil kajian menunjukkan bahwa Program Revitalisasi Satuan Pendidikan memiliki dampak positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Setiap kenaikan 1 persen alokasi dana revitalisasi sekolah berkorelasi dengan peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi sebesar 0,527 persen. Dengan tingkat signifikansi yang kuat, temuan ini mengindikasikan bahwa belanja pemerintah di sektor pendidikan berperan sebagai stimulus fiskal berbasis pendidikan.

Dampak ekonomi tersebut terjadi melalui beberapa mekanisme. Pertama, perputaran ekonomi lokal dari pembelian material bangunan, di mana 82 persen responden menyatakan bahwa sebagian besar bahan bangunan diperoleh dari wilayah sekitar sekolah penerima program. Kedua, penyerapan tenaga kerja lokal, dengan 62 persen pekerja berasal dari masyarakat sekitar dan menerima upah rata-rata Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per hari. Ketiga, peningkatan pendapatan UMKM, di mana 37 persen pelaku usaha di sekitar sekolah mengalami kenaikan pendapatan sekitar Rp100 ribu per hari.

Selain dampak ekonomi, revitalisasi sekolah juga efektif memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan. Setiap kenaikan 1 persen dana revitalisasi berkorelasi dengan peningkatan pemenuhan kebutuhan sarpras sekolah sebesar 0,95 persen. Kegiatan revitalisasi didominasi oleh rehabilitasi ruang kelas dan pembangunan sarana prasarana baru, disusul rehabilitasi laboratorium, ruang kantor, ruang praktikum, serta ruang ibadah.

Dampak Tambahan Penghasilan Guru Non-ASN

Kajian LP3ES juga menemukan bahwa Program Bantuan Tambahan Penghasilan Guru Non-ASN berdampak signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan guru. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa subsidi dan honor guru berkorelasi positif terhadap peningkatan pengeluaran rumah tangga. Setiap kenaikan subsidi setara Rp1 juta, rata-rata mendorong peningkatan pengeluaran rumah tangga guru sekitar Rp317.700.

Sebagian besar guru penerima bantuan melaporkan peningkatan pendapatan kurang dari 35 persen, sementara sebagian lainnya mengalami kenaikan pendapatan antara 35 hingga 70 persen. Peningkatan pendapatan tersebut terutama digunakan untuk kebutuhan pokok, transportasi, pembelian buku dan sumber belajar, serta kebutuhan anak.

Menariknya, kajian juga mencatat adanya perubahan perilaku finansial guru. Sekitar 57 persen guru menyatakan bahwa aktivitas menabung atau investasi kecil mengalami kenaikan prioritas, dari semula berada di urutan keenam menjadi prioritas keempat setelah menerima bantuan secara berkelanjutan.

Peningkatan kesejahteraan ini turut berdampak pada kinerja guru. Sebanyak 88 persen guru menyatakan semangat dan produktivitas kerja meningkat, 86,2 persen merasa lebih dihargai oleh pemerintah, dan 84 persen melaporkan peningkatan tingkat kehadiran di sekolah.

LP3ES menyimpulkan bahwa kedua program tersebut tidak hanya berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan dan kesejahteraan tenaga pendidik, tetapi juga memberikan efek berganda bagi perekonomian daerah. Oleh karena itu, LP3ES merekomendasikan agar kebijakan investasi pendidikan terus diperkuat sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi berkelanjutan.

telah di publish di: https://ekonomi.tvrinews.com/berita/ti8fvzz-kajian-lp3es-program-pendidikan-dorong-ekonomi-daerah