|
Duta Air dan Sanitasi Jakarta |
|
|
Wednesday, 16 December 2009 |
|

Air bagi warga Jakarta sudah semakin langka sayangnya kesadaran warga terhadap pelestarian air masih rendah. Program Pendidikan Air di Sekolah diharapkan mampu menggugah kesadaran masyarakat melalui edukasi sejak dini mengenai masalah lingkungan khususnya kepada generasi muda.
Saat ini kebiasaan membuang sampah, limbah rumah tangga serta limbah industri ke sungai, telah menjadi kebiasaan warga kota. Hal ini memberi andil besar terhadap rusaknya sungai-sungai di Jakarta. Disisi lain, ternyata air tanah juga bukan pilihan yang aman karena sekitar 68% sumur dangkal di Jakarta diduga kuat sudah tercemar bakteri E.coli (Kompas, 4 Maret 2007).
Disisi lain pemanfaatan sumur dalam pun bukannya tanpa dampak. Menurut studi Universitas Indonesia, telah terjadi ambles-an tanah (land subsidence) di Wilayah Jakarta. Kawasan Monas misalnya, dilaporkan telah mengalami penurunan 66 sentimeter dibanding kondisi pada tahun 1984.
Berbagai hal tersebut diatas akan menjadi masalah yang semakin serius bagi Jakarta jika kondisi sumberdaya air dan lingkungan tidak segera dibenahi. Untuk itulah perlu terbangun pemahaman bersama dari berbagai pihak dalam upaya pelestarian air di Jakarta salah satunya melalui program pendidikan air di sekolah.
Kesepahaman ini tertuang dalam Piagam Kesepahaman Pengembangan Pendidikan Air dan Sanitasi di SD/MI di Jakarta. Acara penandatanganan Piagam Kesepahaman ini berlangsung di kantor LP3ES dan dihadiri oleh Dinas Pendidikan, perwakilan SD/MI dan Guru Pendamping yang ada di Jakarta. |